![]() |
| Momen ketika Arga diterima kerja. (Foto Ist) |
Setelah lebaran selesai, saya melanjutkan aktivitas mencari nafkah untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Keluarga masih lekat dan belum bisa sepenuhnya hilang dengan jejak kebersamaan. Saya memutuskan untuk nonton film, “Tunggu Aku Sukses Nanti” selain pemeran utamanya adalah Ardit Erwandha salah satu komika nasional dan di film ini juga merepetisi pertemuan keluarga besar Arga dari tahun 2016 sampai 2026 dan saya kira cocok, perspektif saya berkelakar.
Film ini mengisahkan Arga si tokoh utama yang dari kecil sudah dicerewetin sama tante Yuli. Dari mulai kecil sampai dewasa Arga tidak beruntung perihal finasial atau keberuntungan lainnya. Hal itu bisa dirunut dari Arga kecil ketika mau beli gulali dan ternyata giliran Arga kebetulan habis. Sejak momen itu jadi pengingat Arga hingga dewasa lulus SMA dan terus berjuang mencari kerja, sementara sepupunya yang belum lama bekerja keberuntungan selalu memihaknya mulai dari promosi jabatan yang belum genap satu tahun dan kuliah di luar negeri.
Keinginan untuk diakui alias divalidasi sangat kental sekali apalagi di era sosmed sekarang. Kita terkadang bisa bilang, “Aku santai aja”, akan tetapi dalam hati tetap berharap melihat hasil dari perjuangan itu sendiri. Setidaknya ada yang bilang, “Kamu hebat”, atau paling tidak “Hidup Jokowi” eh salah maksudnya “Aku bangga sama kamu”. Kata-kata seperti itu yang diharapkan Arga dalam perjalanannya membuktikan hasil dari perjuangan itu semua. Arga terus berlali mengejar kesusksesan tapi juga validasi. Akan tetapi konflik berawal dari ketidaksiapan Arga menjadi sukses dan ketidaksiapan itu menjadi boomerang bagi Arga.
Sejak awal film, Arga digambarkan sebagai sosok yang kerap berada di bawah tekanan, terutama dari lingkungan keluarganya sendiri. Ia bukan hanya berjuang menghadapi kerasnya hidup, tetapi juga menanggung ekspektasi dan komentar yang sering kali menjatuhkan terlebih dari Tante Yuli yang hampir tak pernah absen mengomentari hidupnya. Dalam situasi itu, Arga tumbuh menjadi pribadi yang terus bertahan, meski lebih sering diragukan daripada didukung. Justru di situlah letak kekuatan ceritanya: kita tidak sedang mengamati “orang-orang hebat”, melainkan seperti melihat diri kita sendiri di layar lebar.
Menariknya, film ini menghindari pemaksaan dramatisasi yang berlebihan. Kesederhanaan inilah yang membuat emosi terasa semakin intim. Kita diajak untuk masuk ke dalam kehidupan Arga yang penuh dengan tekanan-tekanan kecil akan tetapi terus membangun. Perbincangan orang-orang disekitarnya, ekspektasi keluarga, sindiran-sindiran halus yang tak kentara sama sekali semua itu menjadi latar belakang yang membentuk perjalanan Arga.
Dan di tengah perjalanan itu, ada dua momen yang menurut saya menjadi titik terkuat secara emosional.
Pertama, saat Arga memberikan gaji pertamanya kepada orang tuanya. Adegan ini mungkin klise. Hampir semua film bertema perjuangan punya momen seperti ini. Tapi entah kenapa, masih terasa seperti tamparan. Mungkin karena kita memahami bahwa ini bukan hanya soal uang. Ini merupakan sebuah perjuangan panjang yang akhirnya terwujud secara nyata.
Saat itu, saya tidak sekadar melihat Arga sebagai anak yang berbakti. Saya melihat seseorang yang "melaporkan" kehidupannya sendiri: bahwa dia tidak sia-sia. Semua kelelahan, semua penghinaan, dan semua malam tanpa tidur akhirnya terbayar walaupun tidak seluruhnya. Ada rasa lega yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dan sejujurnya, ini agak lucu jika dipikir-pikir. Di dunia nyata, gaji pertama sering kali kecil, masalahnya rasa bangga yang dihasilkannya bisa bernilai sepuluh kali lipat dari nilai sebenarnya. Kita bilang, "Ini kecil, tapi ini hasilku lho!" dan orang tua sering kali berpura-pura terkejut, padahal mereka mungkin sudah tahu bahwa masalahnya bukan soal uang, melainkan tentang perjalanan anak mereka.
Momen kedua yang lebih pedih datang dari Tante Yuli, sosok yang awalnya merasa "berisik". Sejak awal, karakter ini digambarkan sebagai orang yang banyak bicara, menggoda, dan terkadang menyebalkan bahkan arga memblokir kontak whatsappnya. Tipe orang yang kemungkinan besar akan kita hindari dalam kehidupan nyata. Kapan pun Arga lewat, pasti ada yang berkomentar. Dan biasanya komentar tersebut tidak baik.
Uniknya disitulah film memanipulasi emosi penontonnya. Saat Tante Yuli meninggal, semua kebisingan tiba-tiba menghilang. Dan di dalam keheningan itulah timbul rasa hampa.
Inilah yang menurut saya cerdas sekaligus menyakitkan. Film ini menunjukkan bahwa orang yang kita anggap paling menyebalkan sering kali adalah orang yang paling konsisten dalam hidup kita. Sekalipun kita tidak menyukainya, pada akhirnya kita akan terbiasa dengan kehadirannya. Dan ketika hilang, kita baru sadar ternyata dia punya tempat.
Ada rasa ironi yang sangat kuat di sini. Tante Yuli yang kerap menggoda Arga, mungkin tanpa sadar menjadi salah satu pengikutnya yang paling setia dalam perjalanan hidupnya. Dia memperhatikan dan berkomentar, padahal tingkahnya bisa mengganggu. Tapi bukankah itu juga merupakan bentuk perhatian, meski terasa tidak nyaman?
Yang terpenting, film ini tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Pola ceritanya cukup familiar: generasi muda berjuang, diremehkan, jatuh dan bangkit, lalu perlahan menemukan titik terang. Tapi yang membuatnya menarik adalah pendekatannya yang membumi. Dialognya terasa seperti percakapan biasa, bukan naskah yang terlalu puitis atau berlebihan.
Sayangnya, ada juga aspek yang patut dipertanyakan. Film ini seolah memberi kesan bahwa “sukses” adalah solusi dari segala permasalahan. Kesuksesan Arga rasanya seketika menyembuhkan segala luka masa lalu. Cuma kenyataannya tidak sesederhana itu. Validasi eksternal seringkali tidak cukup untuk menyelesaikan konflik internal.
Demikian kritik yang bisa kami ambil. Arga memang butuh pengakuan, tapi apakah pengakuan itu sebenarnya datang dari luar? Atau sebenarnya, bagian tersulitnya adalah mengakuinya pada diri sendiri.
Film ini secara tidak langsung memunculkan pertanyaan itu, meski tidak memberikan jawaban yang utuh. Kami melihat Arga berjuang keras untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Di sisi lain terkadang, sepertinya dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih dari orang lain.
Dan pada titik itulah, film ini terasa sangat relevan dengan kehidupan banyak orang saat ini. Di era media sosial, mencari validasi sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Kami ingin diperhatikan, dihargai, dan diakui. Kadang-kadang, kita bahkan menilai nilai diri kita berdasarkan reaksi orang lain terhadap kita.
Ironisnya, meskipun kita sering berkata, "Saya tidak peduli apa kata orang", kita sebenarnya mengingat setiap kata yang mereka ucapkan. Kita hafal siapa yang meremehkan kita, siapa yang meragukan kita, dan bahkan siapa yang hanya bercanda tapi menyakiti kita. Dan tanpa kita sadari, semua itu menjadi bahan bakar yang membuat kita terus maju.
Arga mewakili segalanya. Dia tidak sempurna, dia tidak selalu kuat, tapi dia terus bergerak. Terkadang itu bukan karena kita yakin, tapi karena kita tidak punya pilihan lain.
Pada akhirnya, Tunggu Aku Sukses Nanti lebih dari sekadar cerita tentang jalan menuju kesuksesan. Kisah ini mengeksplorasi bagaimana manusia mencari nilai dirinya meski sering menghadapi keraguan.
Film ini mengajak kita untuk sekadar mempertimbangkan apakah kita benar-benar menginginkan kesuksesan atau sekadar ingin terlihat sukses.
Dan mungkin, setelah menonton film ini, kita akan lebih jujur pada diri sendiri. Di balik semua ambisi, tujuan, dan kerja keras terdapat satu kebutuhan mendasar manusia: keinginan untuk diakui.
Tapi pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting tetap sama
Berapa lama kita harus menunggu orang lain memvalidasi kita?
