Mereka berkumpul di kafe dan memesan kopi dalam partai besar. Pemilik kafe menghardik: “maaf, kopi saya tak berpartai!!” 20.39 – 19 Jan 12 (Joko Pinurbo)
Arga Butuh Validasi di Tunggu Aku Sukses Nanti
![]() |
| Momen ketika Arga diterima kerja. (Foto Ist) |
Setelah lebaran selesai, saya melanjutkan aktivitas mencari nafkah untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Keluarga masih lekat dan belum bisa sepenuhnya hilang dengan jejak kebersamaan. Saya memutuskan untuk nonton film, “Tunggu Aku Sukses Nanti” selain pemeran utamanya adalah Ardit Erwandha salah satu komika nasional dan di film ini juga merepetisi pertemuan keluarga besar Arga dari tahun 2016 sampai 2026 dan saya kira cocok, perspektif saya berkelakar.
Film ini mengisahkan Arga si tokoh utama yang dari kecil sudah dicerewetin sama tante Yuli. Dari mulai kecil sampai dewasa Arga tidak beruntung perihal finasial atau keberuntungan lainnya. Hal itu bisa dirunut dari Arga kecil ketika mau beli gulali dan ternyata giliran Arga kebetulan habis. Sejak momen itu jadi pengingat Arga hingga dewasa lulus SMA dan terus berjuang mencari kerja, sementara sepupunya yang belum lama bekerja keberuntungan selalu memihaknya mulai dari promosi jabatan yang belum genap satu tahun dan kuliah di luar negeri.
Keinginan untuk diakui alias divalidasi sangat kental sekali apalagi di era sosmed sekarang. Kita terkadang bisa bilang, “Aku santai aja”, akan tetapi dalam hati tetap berharap melihat hasil dari perjuangan itu sendiri. Setidaknya ada yang bilang, “Kamu hebat”, atau paling tidak “Hidup Jokowi” eh salah maksudnya “Aku bangga sama kamu”. Kata-kata seperti itu yang diharapkan Arga dalam perjalanannya membuktikan hasil dari perjuangan itu semua. Arga terus berlali mengejar kesusksesan tapi juga validasi. Akan tetapi konflik berawal dari ketidaksiapan Arga menjadi sukses dan ketidaksiapan itu menjadi boomerang bagi Arga.
Sejak awal film, Arga digambarkan sebagai sosok yang kerap berada di bawah tekanan, terutama dari lingkungan keluarganya sendiri. Ia bukan hanya berjuang menghadapi kerasnya hidup, tetapi juga menanggung ekspektasi dan komentar yang sering kali menjatuhkan terlebih dari Tante Yuli yang hampir tak pernah absen mengomentari hidupnya. Dalam situasi itu, Arga tumbuh menjadi pribadi yang terus bertahan, meski lebih sering diragukan daripada didukung. Justru di situlah letak kekuatan ceritanya: kita tidak sedang mengamati “orang-orang hebat”, melainkan seperti melihat diri kita sendiri di layar lebar.
Menariknya, film ini menghindari pemaksaan dramatisasi yang berlebihan. Kesederhanaan inilah yang membuat emosi terasa semakin intim. Kita diajak untuk masuk ke dalam kehidupan Arga yang penuh dengan tekanan-tekanan kecil akan tetapi terus membangun. Perbincangan orang-orang disekitarnya, ekspektasi keluarga, sindiran-sindiran halus yang tak kentara sama sekali semua itu menjadi latar belakang yang membentuk perjalanan Arga.
Dan di tengah perjalanan itu, ada dua momen yang menurut saya menjadi titik terkuat secara emosional.
Pertama, saat Arga memberikan gaji pertamanya kepada orang tuanya. Adegan ini mungkin klise. Hampir semua film bertema perjuangan punya momen seperti ini. Tapi entah kenapa, masih terasa seperti tamparan. Mungkin karena kita memahami bahwa ini bukan hanya soal uang. Ini merupakan sebuah perjuangan panjang yang akhirnya terwujud secara nyata.
Saat itu, saya tidak sekadar melihat Arga sebagai anak yang berbakti. Saya melihat seseorang yang "melaporkan" kehidupannya sendiri: bahwa dia tidak sia-sia. Semua kelelahan, semua penghinaan, dan semua malam tanpa tidur akhirnya terbayar walaupun tidak seluruhnya. Ada rasa lega yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dan sejujurnya, ini agak lucu jika dipikir-pikir. Di dunia nyata, gaji pertama sering kali kecil, masalahnya rasa bangga yang dihasilkannya bisa bernilai sepuluh kali lipat dari nilai sebenarnya. Kita bilang, "Ini kecil, tapi ini hasilku lho!" dan orang tua sering kali berpura-pura terkejut, padahal mereka mungkin sudah tahu bahwa masalahnya bukan soal uang, melainkan tentang perjalanan anak mereka.
Momen kedua yang lebih pedih datang dari Tante Yuli, sosok yang awalnya merasa "berisik". Sejak awal, karakter ini digambarkan sebagai orang yang banyak bicara, menggoda, dan terkadang menyebalkan bahkan arga memblokir kontak whatsappnya. Tipe orang yang kemungkinan besar akan kita hindari dalam kehidupan nyata. Kapan pun Arga lewat, pasti ada yang berkomentar. Dan biasanya komentar tersebut tidak baik.
Uniknya disitulah film memanipulasi emosi penontonnya. Saat Tante Yuli meninggal, semua kebisingan tiba-tiba menghilang. Dan di dalam keheningan itulah timbul rasa hampa.
Inilah yang menurut saya cerdas sekaligus menyakitkan. Film ini menunjukkan bahwa orang yang kita anggap paling menyebalkan sering kali adalah orang yang paling konsisten dalam hidup kita. Sekalipun kita tidak menyukainya, pada akhirnya kita akan terbiasa dengan kehadirannya. Dan ketika hilang, kita baru sadar ternyata dia punya tempat.
Ada rasa ironi yang sangat kuat di sini. Tante Yuli yang kerap menggoda Arga, mungkin tanpa sadar menjadi salah satu pengikutnya yang paling setia dalam perjalanan hidupnya. Dia memperhatikan dan berkomentar, padahal tingkahnya bisa mengganggu. Tapi bukankah itu juga merupakan bentuk perhatian, meski terasa tidak nyaman?
Yang terpenting, film ini tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Pola ceritanya cukup familiar: generasi muda berjuang, diremehkan, jatuh dan bangkit, lalu perlahan menemukan titik terang. Tapi yang membuatnya menarik adalah pendekatannya yang membumi. Dialognya terasa seperti percakapan biasa, bukan naskah yang terlalu puitis atau berlebihan.
Sayangnya, ada juga aspek yang patut dipertanyakan. Film ini seolah memberi kesan bahwa “sukses” adalah solusi dari segala permasalahan. Kesuksesan Arga rasanya seketika menyembuhkan segala luka masa lalu. Cuma kenyataannya tidak sesederhana itu. Validasi eksternal seringkali tidak cukup untuk menyelesaikan konflik internal.
Demikian kritik yang bisa kami ambil. Arga memang butuh pengakuan, tapi apakah pengakuan itu sebenarnya datang dari luar? Atau sebenarnya, bagian tersulitnya adalah mengakuinya pada diri sendiri.
Film ini secara tidak langsung memunculkan pertanyaan itu, meski tidak memberikan jawaban yang utuh. Kami melihat Arga berjuang keras untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Di sisi lain terkadang, sepertinya dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih dari orang lain.
Dan pada titik itulah, film ini terasa sangat relevan dengan kehidupan banyak orang saat ini. Di era media sosial, mencari validasi sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Kami ingin diperhatikan, dihargai, dan diakui. Kadang-kadang, kita bahkan menilai nilai diri kita berdasarkan reaksi orang lain terhadap kita.
Ironisnya, meskipun kita sering berkata, "Saya tidak peduli apa kata orang", kita sebenarnya mengingat setiap kata yang mereka ucapkan. Kita hafal siapa yang meremehkan kita, siapa yang meragukan kita, dan bahkan siapa yang hanya bercanda tapi menyakiti kita. Dan tanpa kita sadari, semua itu menjadi bahan bakar yang membuat kita terus maju.
Arga mewakili segalanya. Dia tidak sempurna, dia tidak selalu kuat, tapi dia terus bergerak. Terkadang itu bukan karena kita yakin, tapi karena kita tidak punya pilihan lain.
Pada akhirnya, Tunggu Aku Sukses Nanti lebih dari sekadar cerita tentang jalan menuju kesuksesan. Kisah ini mengeksplorasi bagaimana manusia mencari nilai dirinya meski sering menghadapi keraguan.
Film ini mengajak kita untuk sekadar mempertimbangkan apakah kita benar-benar menginginkan kesuksesan atau sekadar ingin terlihat sukses.
Dan mungkin, setelah menonton film ini, kita akan lebih jujur pada diri sendiri. Di balik semua ambisi, tujuan, dan kerja keras terdapat satu kebutuhan mendasar manusia: keinginan untuk diakui.
Tapi pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting tetap sama
Berapa lama kita harus menunggu orang lain memvalidasi kita?
Puisi Fufufafa
"Betul itu prabowo paling depan bela palestina prabowo pemimpin yg tegas
disegani semua negara berwibawa merakyat IQ 152 saatnya macan asia memimpin
indonesia kita tidak gentar tidak gentar tidak gentar pilih pemimpin yg tegas
tegas tegas tegas tegas duda tegas tegas jangan pilih pemimpin antek yahudi
rakyat sudah lama menunggu pemimpin seperti prabowo prabowo pemimpin yang tegas
tegas tegas tegas tegas asu tegas tegas prabowo adalah soekarno muda prabowo
adalah harapan baru indonesia prabowo adalah macan asia prabowo adalah pemimpin
yg lahir dari rakyat prabowo adalah kita merdeka #22 merdeka merdeka tegas
tegas tegas stroke tegas tegas tegas"
"TS bodoh tolol gak punya otak justru itu menunjukkan kalo prabowo adalah
pemimpin yg negarawan debat 1 sampai 3 selalu setuju dengan pendapat jokowi itu
artinya prabowo adalah seorang yang menghargai pendapat orang hidup prabowo
hidup hidup hidup prabowo macan asia pemimpin yang tegas tegas tegas tegas
tegas janc*k prabowo pemimpin yg merakyat sangat dekat dengan rakyat prabowo
adalah kita sosok pemimpin yg sederhana lexus putih lexus putih lexus putih
hidup kuda hidup kuda hidup kuda hidup duda eh hidup kuda fadli zon nabi
kita"
"TS bodoh liat aja tuh bata berjejer kita tidak butuh dubes kita tidak
butuh drone kita tidak butuh tol laut apa yang kita butuhkan? pemimpin yg tegas
seperti prabowo tegas tegas tegas tegas jangan tunduk pada negara lain yang
kita butuhkan adalah pemimpin yg tegas kita butuh pemimpin yg menghargai
pendapat orang lain menghargai bisikan setan timses dan menghargai pendapat
lawan debat kita butuh pemimpin yg berwibawa bertubuh tinggi tegap dengan IQ
152 kita tidak butuh tol laut kita bisa naik kuda tabloid obor kitab suci ku
fadli zon nabi ku tegas tegas tegas tegas titiek kembalilah ke pelukanku tegas
tegas tegas cerai tegas tegas rujukan"
"Yang bodoh TS Ahmad dhani adalah nabi kita Fadli zon adalah sang juru
selamat pilih pemimpin yg tegas tegas tegas tegas pilih pemimpin yg berwibawa
pilih pempimpin yg mencintai binatang kuda kuda kuda duda kuda hidup prabowo pemimpin
yg merakyat lahir dari rakyat prabowo adalah kita hidup IQ 152 152 152
152"
Surat Tanpa Alamat
Aku menulis surat
lalu membiarkannya di meja.
Jika kau membacanya,
itu kebetulan.
Jika tidak,
aku tetap menulis.
Instruksi Merawat Jam Dinding
Putar jarumnya perlahan
jangan kau paksa berlari.
Ia hanya ingin ditemani
agar detik-detik
tidak bunuh diri.
Pidato di Depan Cermin
Aku berteriak pada bayanganku sendiri:
jangan mengemis pelukan
dari dunia yang sibuk berdagang!
Jangan menukar jantung
dengan nota pembayaran!
Berdirilah!
Kalau harus memberi,
beri tanpa kuitansi!
Payung di Musim Kemarau
Kau membawa payung
saat langit tak hujan
orang-orang menertawakanmu.
Aku tahu:
bukan langit yang kau curigai,
melainkan aku
yang sering tiba-tiba basah.
Cara Memegang Api
Aku belajar memegang api
bukan untuk menghangatkan diri
melainkan agar gelap tahu
aku masih bernapas.
Tanganku melepuh,
tapi malam tak lagi sendirian.
RUU KUHAP Baru Menambah Luka, Aksi Diam Menjaga Sisa Kebebasan
Hari ini kita berdiri bukan untuk huru-hara, bukan untuk gaduh, tetapi untuk mengingatkan negara bahwa luka lama belum pernah benar-benar sembuh. RUU KUHAP yang dibahas tanpa keterbukaan telah membuka luka baru: pasal-pasal yang lentur, tafsir yang longgar, dan ancaman yang mengendap bagi siapa pun yang berani berbicara. Bila hukum menjadi pagar berduri, maka demokrasi perlahan kehilangan napasnya.
Negara yang takut pada kritik adalah negara yang rapuh. Ketika pasal-pasal ancaman diperluas, bukan hanya suara kita yang terancam, tetapi juga masa depan kebebasan sipil. Kita bertanya: apakah keheningan warga negara adalah tujuan akhir dari hukum? Jika kritik dianggap kejahatan, maka apa bedanya demokrasi dengan otoritarianisme yang disamarkan?
Aksi diam hari ini adalah pilihan. Diam bukan penyerahan diri. Diam adalah kesaksian bahwa ruang berbicara telah dipersempit oleh mereka yang seharusnya melindungi hak kita. Dalam diam, kita menunjuk luka yang coba disembunyikan. Dalam diam, kita menolak untuk dilupakan. Dalam diam, kita menjaga sisa kebebasan yang negara coba rendahkan.
Kami tidak meminta banyak: hanya agar negara mendengar warganya sebelum menuliskan pasal-pasal yang mengikat hidup kami. Kami menuntut agar hukum dibuat bukan untuk mengontrol, tetapi untuk melindungi. Kami mengingatkan bahwa rakyat tidak pernah menjadi musuh negara—yang menjadi musuh adalah ketidakadilan.
RUU KUHAP ini menunjukkan betapa mudahnya negara lupa: lupa bahwa Indonesia dibangun dari keberanian warga untuk bersuara, bukan dari ketakutan untuk diam. Ketika negara lupa, rakyat wajib mengingatkan. Dan ketika negara menutup telinga, rakyat harus membuat sunyi berbicara.
Kebebasan berpendapat bukan hadiah negara, bukan izin yang bisa dicabut kapan saja. Ia adalah hak yang melekat pada manusia. Tidak ada legislasi, tidak ada ancaman pasal, dan tidak ada ketakutan yang bisa menghapusnya. Negara hanya bisa mencoba membatasi—tapi tak bisa mematikan hak itu sepenuhnya.
Kita berdiri di sini karena RUU KUHAP bukan hanya soal hari ini. Ini adalah soal masa depan: masa depan aktivis, jurnalis, mahasiswa, peneliti, masyarakat sipil, bahkan generasi yang belum lahir. Jika hari ini kita diam, besok mungkin tidak ada yang tersisa untuk dilindungi.
Payung hitam yang kita angkat bukan sekadar aksesori. Ia adalah simbol duka, simbol ingatan, dan simbol perlawanan. Ia mengingatkan bahwa di negara yang masih menyimpan begitu banyak kesunyian akibat pelanggaran HAM, rakyat harus menciptakan ruangnya sendiri untuk mengingat.
RUU KUHAP ingin kita takut. Takut berbicara, takut bertanya, takut mengkritik. Tetapi ketakutan tidak akan membawa bangsa ini maju. Justru keberanian untuk mempertahankan ruang kritik-lah yang membuat negara sehat. Kita menolak ketakutan itu. Kita menolak untuk dikendalikan.
Kita tidak membawa kekerasan. Kita membawa ingatan. Kita tidak berteriak. Kita berdiri diam. Karena diam kita lebih lantang daripada ancaman hukum mana pun. Selama rakyat masih ingat, negara tidak akan pernah bisa menghapus luka. Selama rakyat masih berani diam di jalan, kebebasan tidak akan pernah benar-benar mati.
PERNYATAAN SIKAP AKSI KAMISAN CIKARANG
“RUU KUHAP Baru Menambah Luka, Aksi Diam Menjaga Sisa Kebebasan”
1. Kami menolak pasal-pasal dalam RUU KUHAP yang berpotensi membungkam kebebasan berpendapat dan mengkriminalkan warga.
2. Kami mengecam proses legislasi yang tertutup dan minim partisipasi publik.
3. Kami menilai RUU KUHAP mengulang luka lama dengan memperluas pasal karet yang dapat digunakan untuk represi politik.
4. Kami menegaskan bahwa kritik adalah hak warga negara, bukan ancaman bagi negara.
5. Kami menolak kriminalisasi terhadap aktivis, jurnalis, akademisi, dan masyarakat sipil.
6. Kami menuntut negara mengutamakan pemulihan hak-hak korban pelanggaran HAM ketimbang memperkuat alat kontrol hukum.
7. Kami menolak penggunaan hukum pidana sebagai instrumen ketakutan.
8. Kami mendesak DPR dan pemerintah membuka kembali ruang dialog publik yang bermakna.
9. Kami mengingatkan bahwa demokrasi tidak dapat hidup jika kritik dihukum dan kebebasan diperkecil.
10. Kami berdiri di sini untuk menjaga ruang yang tersisa—karena ketika hukum menambah luka, rakyat harus tetap bersuara, bahkan dalam diam.
