Jam di dinding kamar kos menunjukkan pukul sembilan malam ketika aku mendorong pintu kamar. Tubuhku terasa remuk, sementara pikiranku masih dipenuhi berbagai pekerjaan yang belum selesai. Kulempar tas berisi laptop ke sudut ruangan, tepat di samping meja kecil tempat mesin tik tua tergeletak. Sepatu kerjaku kulepas perlahan. Solnya mulai terkelupas, sama seperti semangatku yang perlahan terkikis oleh rutinitas. Aku merebahkan tubuh sejenak di atas kasur tipis yang menjadi saksi setiap lelahku.
Belum sempat memejamkan mata, layar ponselku menyala.
Ayah.
Aku mengusap wajah sebelum membuka pesannya.
"Nak, maaf mengganggu. Kalau masih ada rezeki, ayah pinjam dulu ya. Besok harus bayar listrik. Tidak banyak, semampumu saja."
Pandanganku berhenti pada saldo rekening.
Gaji yang baru kuterima seminggu lalu kini hanya tersisa beberapa ratus ribu rupiah. Uang itu sebenarnya sudah kuperhitungkan untuk bertahan hidup hingga akhir bulan. Bahkan aku berharap masih cukup untuk membeli sepatu kerja baru karena yang kupakai sekarang hampir tak layak digunakan.
Tanpa berpikir panjang, kubuka aplikasi perbankan.
Transfer berhasil.
Aku menghela napas pelan. Menahan lapar. Besok, aku harus kembali menghemat.
Hari-hariku kembali berjalan seperti biasa.
Berangkat sebelum matahari terbit.
Pulang ketika langit telah gelap.
Sarapan hanya roti murah.
Makan siang seadanya.
Kadang makan malam cukup dengan mi instan dan segelas air hangat.
Bukan karena aku malas bekerja lebih keras, tetapi karena sebagian besar hasil kerjaku selalu pulang lebih dulu ke rumah.
Seminggu kemudian, adikku menelepon.
"Mas... uang praktikumku masih kurang. Kalau tidak dibayar minggu ini, aku tidak bisa ikut."
Aku terdiam.
Kubuka dompetku.
Kosong.
Akhirnya aku kembali mentransfer uang, kali ini hasil meminjam dari seorang teman kantor.
"Tidak apa-apa. Fokus kuliah saja."
Setelah telepon ditutup, kuhitung kembali sisa uang di sakuku.
Cukup untuk berjalan kaki ke kantor beberapa hari.
Cukup untuk makan sekali sehari.
Beberapa hari kemudian, ibu menelepon.
Suara beliau yang biasanya tegas terdengar jauh lebih pelan.
"Kalau belum ada, tidak usah dipaksakan, Yan. Ibu cuma harus kontrol lagi ke rumah sakit."
Aku memejamkan mata.
Dadaku terasa sesak.
Ingin sekali kukatakan bahwa aku pun sedang kesulitan.
Bahwa sepatuku hampir rusak.
Bahwa tubuhku sedang demam sejak dua hari lalu.
Bahwa mungkin aku sendiri tidak akan bisa makan dengan layak sampai akhir bulan.
Akan tetapi yang keluar dari bibirku hanyalah kalimat yang selalu sama.
"Nanti Gyan usahakan, Bu."
Malam itu aku duduk sendirian di kamar kos yang gelap. Lampu sengaja tidak kunyalakan agar tagihan listrik bulan depan tidak terlalu besar. Di luar, hujan turun perlahan. Perutku mulai terasa lapar.
Entah sejak kapan, air mataku jatuh begitu saja.
Bukan karena uangku semakin sedikit.
Melainkan karena aku lelah.
Lelah menjadi seseorang yang selalu terlihat kuat.
Lelah menyembunyikan semua rasa agar orang-orang di rumah tidak ikut khawatir.
Tak lama kemudian ponselku kembali berbunyi.
Aku mengira akan ada permintaan lain.
Ternyata bukan.
"Nak, ibu baru sadar. Selama ini ibu sering bertanya kapan kamu gajian, tapi jarang bertanya... kamu sudah makan belum?"
"Maaf ya, Nak. Jangan terlalu memaksakan diri. Kami bangga padamu, bukan karena uang yang kamu kirim, tetapi karena kamu tidak pernah berhenti berjuang."
Aku tak mampu lagi menahan air mata.
Untuk pertama kalinya sejak merantau, aku merasa perjuanganku benar-benar dilihat.
Enam bulan kemudian, aku pulang ke rumah.
Rumah itu masih sederhana.
Dindingnya masih sama.
Halamannya masih dipenuhi tanaman kesayangan ibu.
Akan tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Adikku menghampiriku sambil menyerahkan sebuah amplop.
"Mas, sekarang aku sudah bekerja. Mulai bulan ini, biar aku ikut membantu."
Ayah menepuk bahuku.
"Kamu anak kami, Yan. Bukan mesin yang harus terus memberi. Beban keluarga tidak boleh dipikul sendirian."
Aku tersenyum.
Barangkali, selama ini yang kurindukan bukanlah hidup tanpa kesulitan.
Melainkan keyakinan bahwa suatu hari nanti akan ada tangan lain yang ikut menopang pundakku.
Hari itu aku memahami satu hal.
Menjadi anak pertama memang mengajarkanku arti pengorbanan. Meski begitu keluarga yang saling mencintai tidak akan membiarkan satu pundak memikul seluruh beban sendirian.
Tidak ada komentar