Catatan
Mungkin
Mungkin kita bertemu bukan untuk bersatu
Mungkin kita berpisah bukan untuk menjauh
Mungkin
Kita adalah mungkin yang jadi serba mungkin
Hingga akhirnya, kemungkinan itu lirih
Dan kita tetap menjadi kita
Tanpa pernah sempat saling basuh
Saling tutup luka
Tanpa pernah sadar membawa duka
Tak apa bila esok bukan jadi juara
Tapi ingat tentang ini
Takkan dikenal sebuah cerita
Tanpa tangan merangkul
Takkan disapa sebuah senyum
Tanpa epduli disambmut
pergi saja pergi
Lupa saja lupa
Kamu mungkin takkan sadar
Ada yang luka diatas suka yang tengah diagungkan
Standarnya Sih Begitu
Menulislah jangan takut. Berusaha sedapat mungkin tulis, baca, baca ulang. Menulislah dengan usaha yang sungguh-sungguh. Jangan menulis buku seperti menulis surat cinta, salah sedikit langsung disobek.
Pramoedya Ananta Toer berkata, "Jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca, yang terpenting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat akan berguna.
Mau menulis tentang pasangan
Setidaknya orang yang berpasangan harus mempunyai empat persamaan. Pertama sama-sama hidup dengan tanda, tahu, gerak dan rasa. Sama-sama tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sama-sama bergerak jangan satu bergerak kekiri dan yang satu kekanan. Sama-sama punya perasaan. Yang kedua sama-sama manusia jangan beranggapan bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. Yang ketiga sama-sama dewasa. Dan yang keempat sama-sama cinta. Semakin kuat hubungan ini semakin kuat persamaan ini. (M. Quraish Shihab)
Joker
Pernahkah Berpikir
Pendidikan adalah suatu hal yang menentukan sebuah bangsa itu maju atau mundur. Pendidikan menjadikan sebuah generasi lebih terlihat seperti manusia atau mungkin lebih terlihat secara hewani.
Setiap tahun ratusan bahkan ribuan sarjana lulus dengan berbagai macam penelitiannya. Ada sebuah pertanyaan kemanakah penelitian tersebut, terimplementasi kemana?
Apakah menurut kalian pendidikan saat ini sudah menjadi lebih baik? Sebagian besar mungkin mengatakan pendidikan kita ada yang salah.
Dan sekarang ada sebuah pertanyaan. Bagi mereka yang sedang mengambil S1 atau mungkin S2 dan S3. Apakah kamu merasa lebih pintar dari kamu setahun yang lalu?
Kenyataan. Banyak sekali diluar sana secara gelar sudah banyak. Akan tetapi mohon maaf otaknya tidak sesuai dengan gelar mereka. Kenapa?
Pendidikan kita adalah ilusi. Mengapa. Karena semua siswa dan siswi sudah terprogram oleh tenaga pendidik mereka. Sewaktu sekolah dulu. Apakah kalian berani menjawab soal ujian dengan jawaban yang menurut kalian benar tapi tidak sesuai dengan buku. Dan 99% akan menjawab tidak berani. Mengapa. Karena kalau tidak sesuai dengan buku akan mendapat nilai yang jelek dan tidak lulus.
Padahal manusia yang cerdas adalah bukan manusia yang pintar menghapal. Manusia yang cerdas adalah manusia yang berani mengemukakan pendapat dan berani berkreasi. Dan bukan berarti menghapal itu tidak penting. Cara pendidikan yang benar, berikan poin-poin agar mereka berpikir menggunakan kreativitasnya masing-masing.
Terimakasih Diriku
Terimakasih sudah mau belajar, dari bangku SD hingga perkuliahan. Sekalipun tidak menjadi yang paling cemerlang.
Terimakasih sudah mencari nafkah, sekalipun hasilnya tidak seberapa meski sudah bersusah payah.
Terimakasih sudah pernah nakal dan berbuat kesalahan, sekarang sudah bisa membedakan? Kalau berusaha menjadi baik jauh lebih asyik.
Terimakasih sudah mau membuat keputusan, memilih jalan, mengambil tanggung jawab dan menerima segala resiko.
Terimakasih sudah mau bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Sekalipun harus mensyukuri kenyataan atau bahkan kegagalan.
Terimakasih sudah memilih tidak menyerah sekalipun ingin sekali menyerah.
Terimakasih untuk diriku.
Sekali lagi terimakasih.
Sumber: Ayunanisp
Demokrasi (Kebebasan, Keadilan dan Penegakan Hukum)
Demokrasi sudah berumur 74 tahun. Sejak di deklarasikan 17 Agustus 1945. Dalam deklarasi tersebut atas nama bangsa Indonesia bukan pribadi, golongan ataupun organisasi. Demokrasi adalah kekuasaan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sudah sejauh manakah demokrasi itu sendiri sekarang? Apakah poin-poin kebebasan, keadilan dan penegakan hukum sudah memenuhi demokrasi?
Akhir-akhir ini demokrasi transaksional sudah tidak aneh lagi. Orang partai yang militan, keilmuannya mumpuni, serta attitudenya baik belum tentu menjadi yang terpilih. Tapi mereka yang mempunyai popularitas, kedekatan emosional dengan elit politik ataupun punya tampang yang menjual. Jual beli seperti dagangan yang mempunyai kepentingan.
Demokrasi merupakan sebuah rumah seperangkat aturan lewat pemilu, rakyat bisa memberikan sumbangsihnya. Katanya negara kita mendapatkan peringkat ketiga demokrasi di dunia. Ah terlalu luas membahas negara harus menjadi negarawan dulu sedang yang menulis rakyat.
Teringat sebuah ucapan dari dewan wakil rakyat. Saat melakukan audiensi kala aksi. Dia menyampaikan ingin adanya agenda untuk bertukar gagasan dengan masyarakat, akademisi dan kalangan lainnya. Apakah para wakil rakyat berani menganggarkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)sebagai tindakan konkritnya. Ataukah hanya karena kemarin masih hangat menjelang pelantikan. Ataukah ini hanya akan hilang terbawa angin yang dinamakan janji.
Tugas seorang dewan secara hierarki adalah pelayanan. Siapa yang menyampaikan aspirasi hendaknya disambut baik oleh pelayan.
Peraturan daerah (Perda) merupakan kunci undang-undang daerah yang harus masuk kearifan lokal bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Untuk itu Rancangan peraturan undang-undang (Raperda) sebelum diparipurnakan harus jelas output, outcame, dan impactnya. Karena ketidaktahuan rakyat adalah senjata para penguasa. Perda terbagi menjadi perda inisiatif yang dibahas oleh komisi dan perda prakarsa yang dibahas oleh eksekutif. Apakah dalam raperda dilibatkan masyarakat, akademisi, dan kalangan lainnya. Dan sudah sejauh mana realisasinya?
KAMPUS
Apakah sekolah ini sudah tersistem sebelumnya sama UNESCO. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, (UNESCO) merupakan badan khusus PBB yang didirikan pada 1945. Tujuan organisasi adalah mendukung perdamaian, dan keamanan dengan mempromosikan kerja sama antar negara melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya dalam rangka meningkatkan rasa saling menghormati yang berlandaskan kepada keadilan, peraturan hukum, HAM, dan kebebasan hakiki. (Pasal 1 Konstitusi UNESCO).
Dari sekolah kita diajarkan jika menggambarkan alam tidak jauh-jauh dari pegunungan. Yang tertanam sampai sekarangpun seperti itu. Ilmu yang melekat bukan sekedar bejibun teori tapi teori lalu langsung diaplikasikan. Semua mempunyai passion berbeda-beda. Memaksakan passion sama saja mengajarkan anak ayam untuk belajar terbang.
Neo Kolonialisme dan Imperialisme
Paradigma, kenapa sebagian orang tidak peduli.Yang terpenting cari duit buat kebutuhan hidup. Ketika sulit cari uang untuk penuhi kebutuhan sehari-hari, pernahkah berpikir ada segelintir elit yang menguasai sistem. Mereka mengeruk sumber daya alam, mengambil uang tanpa disadari dan memperbudak tanpa disadari.
Pemilu adalah ilusi, bahwasanya merupakan simbol memiliki kebebasan tapi sebenarnya tidak punya pilihan. Pers adalah tulang punggung demokrasi. Dunia tidak seperti yang diberitakan media. Dunia tidak seperti yang diajarkan sekolah.
Neo kolonialisme dan imperialisme adalah perbudakan gaya baru, perbudakan global tanpa disadari. Kemerdekaan bukan hanya cukup diucapkan sekali tetapi harus diperjuangkan. Jumlah hutang adalah sistem, selalu lebih banyak dari jumlah uang yang diedarkan. Yang salah siapa? pemerintah, ekonom, akademisi. Ini bukan soal salah atau benar, pintar atau bodoh tapi sebuah sistem yang diterapkan oleh segelentir elite untuk mengambil keuntungan.
Mahasiswa dan Kebenaran
Sedih jika melihat kebenaran dari satu sisi saja. Tanpa pernah
dikaji. Hanya menjustifikasi menurut egonya sendiri. Tidak ada satu
orangpun yang tidak suka dengan kebenaran. Orang bersalahpun akan
membela bahwa dirinya benar. Jangan heran juga jika wakil rakyat tidak
mewakili rakyat. Toh analoginya tempat makan juga bukan terbuat dari
makanan.
Apalagi jika melihat kejadian berdasarkan teori saja tanpa pernah
mencari tahu fakta di lapangan. Menghubungkan semua partikel-partikel
kebenaran. Menghakimi sesuatu hal berdasarkan teknologi informasi yang
sedang dinikmati.
Menjadi mahasiswa memanglah berat seperti halnya mempunyai rasa
syukur. Dari 1000 anak yang masuk Sekolah Dasar (SD) hanya 100 bahkan
puluhan dari mereka yang bisa menikmati menjadi mahasiswa. Pada desa
tertinggal dan keluarga sederhana. Jangankan bermimpi menempuh
pendidikan tinggi mereka masih bergelut dengan sesuap nasi.
Ada sebuah kutipan, “Menjadi mahasiswa serba salah, kala kami
memperjuangkan hak umum dan mungkin di dalamnya ada haknya pula tapi
tetap kami tak ada makna”.
Saat ikut demo, ngapain demo. “Merusuhkan saja lebih baik belajar
yang benar dan kerja untuk memperkaya diri”. Namun saat sedang fokus
pada pembelajaran dan ada masalah di pemerintahan. Mereka pada bertanya,
“Kemana mahasiswa”.
Ketika kami turun ke jalan tentu kami sudah dibekali dengan
pengetahuan dan kajian-kajian. Walaupun di dalam kajian tersebut selalu
pasti ada pro dan kontranya. Karena seperti yang dikatakan kebenaran
bersifat subyektif dibuktikan dengan berbagai macam pendekatan sehingga
menghasilkan data dan fakta.
Jika ada kejadian yang di luar dugaan karena aksi, itu merupakan di luar kuasa mahasiswa sebagai manusia biasa.
Kisah
Teringat sebuah ucapan tentang sama-sama berjuang. Namun sekarang sama-sama diam. Entah diam-diam berjuang ataupun berjuang melupakan kenyataan.
Hal yang paling sulit adalah menerima kenyataan yang pahit. Berantai janji dan harapan berbicara mimpi masa depan. Jika sama saling mewujudkan tentu akan menjadi realita. Bukan sekedar menjadi romansa ataupun problematika tentang kita.
Bertukar argumentasi dengan teori dan implementasi. Terkadang ada saat-saat rindu atas kehangatanmu. Seperti mentari pagi yang mulai menunjukkan kehangatanya saat ini. Akupun menghirup udara pagi di kota ini. Pikiran menarik ke latar belakang tentang kisah. Aku berkat, “Bolehkah Aku bilang rindu?”.
Stasiun PALMERAH
25-09-2019
Reformasi dan Demokrasi
Demokrasi adalah sebuah ekspresi menyampaikan aspirasi. Nyatanya pelaku demokrasi selalu dikebiri oleh penguasa hierarki. Apa yang dicita-citakan sudah jelas selalu menjadi harapan untuk kemaslahatan. Tak luput poin-poin pro dan kontra. Nyatanya kita hidup seperti berhalusinasi. Semua yang diperjuangkan akan hilang dengan sebuah kebijakan yang tanpa ditimbang dan transparan.
Tuntutan reformasi tuntutan kepada birokrasi beserta orang-orang berdasi. Tuntutan reformasi akan semakin banyak meninggalkan pekerjaan rumah. Apalagi pejuang reformasi yang menjadi korban dalam menyuarakan hati nurani. Sebuah keputusan bisa dikuatkan ataupun dilemahkan. Akan tetapi nyawa akibat dari kekerasan tidak bisa digantikan dengan emas ataupun berlian.
Tangisan keluarga korban, merupakan tangisan keadilan. Yang entah sampai kapan diperjuangkan dan disuarakan, akan diam karena kelelahan. Bisakah reformasi dan demokrasi secara elegan yang mencerminkan sebuah kedewasaan.
Stasiun Palmerah
25 September 2019
Kebenaran
Kebenaran sering diucapkan tapi terkadang susah dilaksanakan. Melihat dari situasi sekarang-sekarang ini tentang pandangan terkait isu-isu terkini. Setiap orang punya pandangan tentang kebenaran tersebut. Kebenaran bisa ditemukan dan diuji dengan berbagai macam pendekatan. Kebenaran bisa juga bisa bersifat subyektif tergantung dari sudut mana mereka menganalisanya dan membuktikannya. Akan tetapi yang lebih penting jangan merasa benar sendiri apalagi merasa paling benar. Jika memang bersalah meminta maaflah sekalipun kepada anak kecil. Jika memang benar jangan jumawa karena manusia hanya bisa menerka-nerka.
Mau Ganteng atau Tidak, Mau Cantik atau Tidak, Kalau Tidak Satu Frekuensi. Bagaimana?
Salah satu kalimat yang didapat melalui pelajaran berharga dari kisah
cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun. Fisik sepertinya bukan salah satu
indikator utama dalam mencintai seseorang. Karena bagaimanapun yang
terpenting adalah hati. Kita satu pemikiran atau tidak. Kita satu
frekuensi atau tidak. Lebih banyak mengalah atau menang sendiri. Lebih
banyak meminta maaf atau mencaci. Saling menghargai dan mempercayai.
Pasangan bukan sekedar ada tapi dia harus menjadi pelengkap yang ada.
Berjuang jika memang dia layak diperjuangkan. Bukan berjuang untuk
lari dari kenyataan. Bukan berjuang untuk sama-sama saling melupakan
karena terkikis keraguan. Seharusnya saling menguatkan seperti sebuah
tali semakin kuat untuk mengikat menjadi satu.
Pasangan menerima apa adanya dalam semua kondisi bukan hanya selingan
untuk mengisi. Pasangan yang abadi bukan tanpa konflik dan berjalan
mulus seperti jalan tol. Adanya rasa saling. Saling memperjuangkan.
Saling melengkapi. Dan saling berbagi tanpa ada sekat-sekat hirarki
maupun materi. Hati tidak akan pernah bisa berdusta. Menyembunyikan rasa
yang kentara. Jangan bertepuk sebelah tangan. Tapi berpegangan dalam
satu ayunan.












